Minggu, 05 Januari 2020

Puisi Campuran

Merangkul Hujan

apa yang kaupandang pada musim hujan begini: awan mendung,
timbunan garam dalam botol, rindu yang asin di punggung lautan,
halusinasi tentang jarak, jalan raya yang panjang, tempatmu menggelinding
dalam kecengengan, cara paling keren buat membunuh kesedihanmu
yang memalukan; membanting muka sendiri di dalam kaca, memecahkan jendela,
tempat seekor keledai melamun memuntahkan kebodohannya.
sementara hujan belum turun, kau sibuk menerka-nerka, rindu apalagi
yang musti kutulis, tetesan hujan di batang pohon, hiburan masa lalu,
sejarah lemah syahwat, kenangan cinta yang dungu.


Penyair

suara-suara kemalangan dalam nada liris itu patah oleh gemuruh langit sebelum petir. kutelisik goa dan geronggang tanah, bisu itu sembunyi! ada payung daun pisang dan plastik daur ulang untuk jas hujan, tapi bisu itu dungu yang mabuk roman hujan dan gelar murahan. menyebut diri penyair tapi oleh syair ia gemetar sembunyi
 
 

Mimpi

Kaki ini terus melangkah
Tak peduli rintangan menghandang
tangan ini terus Menggenggap Menggenggam yang seharusnya kugenggam

Hati yang mengeluarkan ketenangan
Bangun dari keheningan malam
Mengangkat kedua tangan
Memanjatkan doa-doa

Memohon pada sang pecipta
Memberi jalan selebar-lebarnya
Dari hati yang paling tulus
Mohon wujudkan semua mimpiku

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar